Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Ketua MUI Jelaskan Esensi NU Saat Hadiri Halaqah Dakwah NU Sulsel

INILAHCELEBES.ID, MAKASSAR – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ma’ruf Amin dalam taushiyahnya mengatakan, kepengurusan Syuriyah saat ini memiliki tugas untuk selalu turun ke daerah karena pada dasarnya PBNU tidak bisa mengontrol dari pusat, tetapi harus turun langsung untuk bersilaturrahim bersama Ulama seluruh Indonesia.

“Pemilik NU itu Ulama, pengurus hanya sopir atau yang menjalankan. Ulama jangan hanya mengurus pesantren, tetapi harus menjaga soliditas keumatan, kebangsaan, dan bernegara,” ungkapnya saat menghadiri Halaqah Dakwah Wasathiyah Annahdliah yang diadakan oleh PWNU Sulawesi Selatan di Auditorium KH Muhyiddin Zain Universitas Islam Makassar, Sabtu (20/5) kemarin.

KH Ma’ruf Amin yang juga selaku Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini menekankan, untuk tanggung jawab keumatan, NU harus menjadi penggerak bukan digerakkan, Syuriyah harus menggerakkan dan Tanfidziah yang menjalankan.

“Saat ini banyak kelompok yang mengaku Ahlusunnah Wal Jamaah tetapi tidak mengakui Asy’ariyah dan Maturidiah, bahkan menyesatkan kedua Ulama besar ini. Olehnya itu, harus disebut Ahlusunnah Waljamaah Annahdliah, yang menyesatkan disebut Ahlusunnah Waljamaah Wahabiah,” tuturnya.

Menurut KH Ma’ruf Amin, secara garis besar NU itu meliputi 5 hal yakni, Pertama, aqidah gerakan aqidah yang sesuai ajaran Ahlusunnah Waljamaah Annahdliah, Kedua, fiqrah yakni pola pikir, Ketiga, alamiah yakni NU memiliki tradisi tradisi ibadah, misalnya istighosah, qunut subuh dan lain sebagainya.

Keempat, Haraqah yakni gerakan melindungi umat dari aqidah yang menyimpang, gerakan radikal misalnya kelompok yang akan merubah komitmen kebangsaan kita, yakni Pancasila dan NKRI, Kelima, Jam’iyyah yakni organisasi yang memiliki aturan-aturan ada qanun asasi dan aturan lainnya, dalam tradisi NU berbeda pendapat itu biasa, tetapi ketika sudah ada keputusan maka semua pengurus harus mentaati.

Ditambahkannya, NU harus menjadi kaedah penuntun dalam berbangsa dan bernegara. NU harus menjadi pelayan umat/publik untuk memudahkan atau yang membutuhkan. NU harus melakukan perbaikan secara terus menerus dalam semua hal yakni aqidah, pendidikan, ekonomi, politik dan lain sebagainya.

Di sesi arahan, turut pula memberikan taushiyah Wakil Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar. Dalam taushiyahnya, KH Miftahul Akhyar menyampaikan bahwasanya apa yang disampaikan oleh Rais Aam PBNU sudah menggambarkan NU sesungguhnya.

“Gerakan keagamaan dewasa ini, dimana muncul gerakan kiri dan kanan. Yang kiri memahami Islam dengan gaya pemikiran liberal dan gerakan kanan lebih ekstrem serta menampilkan wajah Islam yang keras. Selain itu gerakan-gerakan seperti ini biasanya muncul dengan momentum-momentum tertentu,” tuturnya.

Turut hadir Rektor Universitas Islam Makassar, Majdah Agus Arifin Nu’mang, Kepala Kantor Kanwil Kemenag Sulsel, Abd Wahid Thahir, para pengurus Syuriyah dan Tanfidziyah NU se-Sulsel serta Pimpinan Ponpes se-Sulsel. (Ami/Firman)

Silahkan dibagikan

Comments

comments

redaksi

Read Previous

Bukan Jiplakan, 6 Program DBR Ternyata Miliki Kesamaan dengan Program Gerindra. Sinyal?

Read Next

Beranikan Diri Maju di Pilkada, Satrya Madjid Bertekad Jadikan Wajo Sejajar di ASEAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *